Sunday, April 10, 2022

Membagi sedikit pikiran, setelah beberapa tahun

Hai, sudah berapa tahun ya?
Tahun - tahun terakhir sungguh menyibukkan
Aku sungguh tidak memiliki waktu untuk menulis
Tapi hari ini, aku ingin mengeluarkan beberapa hal di kepalaku 

Sore tadi aku menyapu halaman, 
Ada anak - anak tetangga yang sedang bermain, mereka tertawa lepas
Aku sudah menyadari bahwa hidupku tidak normal beberapa tahun terakhir
Aku jarang mengobrol, jarang bersantai, dan jarang melakukan kegiatan sehari - hari pada umumnya

Jika ada waktu, aku memilih sendiri dan beristirahat
Aku sudah jarang menulis, karena seringkali rasanya sangat lelah
Padahal aku mendambakan hidup yang biasa - biasa saja
Membersihkan rumah di pagi hari, rutin berolahraga, memasak, menulis jurnal, melakukan pekerjaan yang aku sukai

Namun, sayangnya itu belum tercapai
Aku sedang berusaha saat ini, semoga Tuhan dan semesta membantuku

Ada hal yang baru terpikirkan olehku hari ini
Manusia adalah kumpulan luka sejak ia kecil
Manusia tumbuh bersama luka, sehingga membentuk pribadinya
Luka membuat seseorang mudah sedih dan mudah marah
Dan satu - satunya yang bisa menghapus itu adalah rasa cinta dan kasih
Setiap hal akan baik jika dipasangkan berlawanan, bukan?

Aku sangat menyukai filosofi yin & yang, jika di Bali, filosofi ini disebut dengan Rwa Bhinneda
Artinya sangat sederhana, tetapi maknanya begitu dalam.

Terlepas dari itu..
Semakin dewasa, kita bukannya semakin pintar tapi semakin tidak peduli
Aku baru saja membaca tulisan - tulisan lamaku
dan berpikir...
Aku sangat suka menulis, tapi hidup tidak memberiku pilihan
Hingga sampai di satu titik yang benar - benar memuakkan
Sampai di titik puncak itu, aku ingin kembali pada perasaan saat aku masih muda

Pelan - pelan, mari melepas luka
Kemudian menjadi diri saat kita belum terlalu mengenal kehidupan


Saturday, November 9, 2019

Menyusuri Jalan Pulang

Sudah jauh kaki melangkah
Sudah panjang jalan kehidupan terlewati
Dari terik, hujan, badai terlewati
Aku sungguh rindu
Rumah yang dulu
Aku yang bertahun tahun lalu

Friday, August 9, 2019

Memori

Aku melupakan banyak hal dan menyisakan sedikit ingatan, 
Hari-hari berlalu, bibir tetap membisu
Apa kini waktu telah habis untuk merangkai kata-kata?
Kau sungguh terlalu penakut
Hingga kepergian tidak menyisakan apapun
Kecuali kata maaf
Yang entah berapa kali kau ucapkan

Aku melupakan banyak hal dan menyisakan sedikit kenangan
Mungkin salah satu tentang senja
Atau ombak
Atau lagu yang mengalun alun

Anggap saja kita telah kehabisan waktu
Dan kita telah sepakat tidak mengulurnya

Sunday, July 28, 2019

Pantai Favorit di Bali (updated)

Beberapa tahun yang lalu, aku pernah menulis topik yang sama soal pantai favorit di Bali dan jatuh pada Pantai Balangan.
Sudah lama aku tidak kesana lagi. Tapi aku tetap menyukai pantai dan ini beberapa favoritku saat ini:

1. Green bowl
Untuk mencapai green bowl, perlu menuruni anak tangga yang cukup banyak tapi saat sampai dipantai ini, kita akan disuguhi pemandangan batu-batu karang khas pantai-panta selatan bali.
Hal yang unik dari pantai ini adalah ada lubang seperti lubang goa yang besar di salah satu tepinya. Pantai ini pun masih cukup sepi jadi bisa dinikmati dengan syahdu
Hati-hati ya! Di pantai ini juga banyak monyet liar

2. Pantai Karang Sanur
Suasana Pantai Karang menurutku mirip di luar negeri! Di sisi pantai banyak terdapat resort, hotel dan cafe yang punya interior unik.
Tidak ada tebing dan karang, sejauh mata memandang terlihat air laut, pasir putih dan kapal nelayan

3. Broken Beach dan Angel’s Tears, Nusa Penida
Nusa Penida dianugrahi pantai-pantai yang sangat indah. Bentuk pantainya unik dan sangat menukau mata. Sayangnya, wisatawan yang datang sangat ramai. 

4. Bias Tugel Beach, Karangasem
Saat tiba di bias tugel, kita bisa melihat dua kondisi pantai. Jika ke kanan, kita akan bertemu pantai yang sangat sepi dengan karang yang besar. Lokasi ini cukup sempit dan tidak bisa digunakan untuk duduk-duduk santai karena tempatnya lebih seperti gua yang tersembunyi.
Namun apabila ke arah kiri, kita akan menemui pantai yang panjang dengan banyak restoran lokal di tepinya. Menurutku, yang paling indah dari pantai ini adalah airnya yang berwarna tosca.


Saturday, June 29, 2019

Menutup Satu Lembar Mimpi

Akhir Juni ini, ditutup dengan sendu
Aku harus mengubur salah satu mimpi besarku
Seharian aku menghibur diri
Mengupayakan agar aku bisa lupa

Atau aku akan mengatakan kepada diri sendiri,
“Setidaknya kamu telah mencoba”
Iya lebih baik mencoba kemudian gagal daripada tidak mencoba sama sekali
Aku harus melepas harapan berkali kali
Dibentur oleh kehidupan juga berkali kali
Tapi hidup harus tetap dijalani
Yang aku tau, kelak aku akan berterima kasih untuk pintu-pintu yang ditutup Tuhan untukku

Malam ini, aku menutup satu lembar mimpiku
Namun aku tidak akan pernah berhenti bermimpi

Saturday, June 22, 2019

Pukul satu pagi

Aku sedang bersiap siap tidur
Ini sudah pukul satu pagi
Aku sudah selesai berdoa
Sudah pula gosok gigi dan cuci muka
Sesekali teringat tentang kamu
Aku berfikir aku telah berhasil
Melupakan tentang kamu

Terima kasih, kamu
Atas tawa dan senyumku
Ketika senja itu, aku bahagia
Mungkin takdirku bukan denganmu
Tapi, aku tetap bersyukur

Semoga hidupmu lebih baik, semoga aku juga
Ada yang ingin aku katakan 
Sayangnya, kamu menutup pintumu rapat-rapat
Namun, kamu harus tau;
“Kamu penuh dengan ide cemerlang, potensi dan semangat juang. Aku ingin menjadi bagian dari perjuangan itu. Aku percaya dengan usahamu. Kelak, Tuhan akan membalas segala pengorbananmu. Jangan bersedih lagi”

Sunday, June 16, 2019

Awal Juni; Merangkai Kembali Aku dan Tentang Rindu

Setahun belakangan ini hidupku seperti roller coaster 
Ada masa ketika aku sangat bahagia, tapi kemudian terjatuh sangat dalam
Saat terjatuh, aku bukan hanya kehilangan orang lain tapi juga diri sendiri
Berulang kali aku meyakini diri sendiri, bahwa Semesta tidak tidur
Namun berulang kali pula aku goyah

Iya, goyah. Ada beberapa hal di luar kendaliku seperti rindu
Atau ketika rasanya aku telah melakukan yang terbaik tapi ternyata itu tidak cukup
Aku tidak ingin kehilangan diri sendiri lagi dan tidak ingin rinduku membuat aku hilang akal

Yang patah akan tumbuh lagi
Yang hilang akan berganti lagi
Kini, aku sedang merangkai kembali aku yang dahulu
Semua akan terlewati
Semua akan baik - baik saja. Iya kan? 


Wednesday, May 29, 2019

Selamat Tinggal, Mei

Lagi - lagi aku kalah
Melawan diri sendiri
Mei,
Hari - harimu yang panjang
Kini akan berakhir

Harapan yang aku tanam,
Akan aku lepas

Aku menjadi diriku yang baru ke-sekian kali
Mei,
Dalam doaku, aku meminta agar aku meninggalkanmu dengan perasaan gembira

Terlepas itu terkabul atau tidak
Tolong jangan meninggalkan aku dengan banyak pertanyaan
Yang tak terjawab

Mei,
Hari ini langit di luar sedang mendung
Berjanjilah,
Semua akan baik-baik saja

Selamat tinggal, Mei

Monday, May 27, 2019

Jeda

Ada kalanya benda mati lebih bisa diajak berbicara daripada mahkluk hidup
Manusia terkadang egois
Termasuk aku atau kamu
Aku tidak pernah meminta kelam datang
Pun, aku tidak pernah mengijinkan hal - hal buruk masuk ke pikiranku
Hanya saja mereka memang tidak pernah meminta ijin

Apabila di dunia ini hanya ada senang, maka hidup tidak dapat dikatakan sebuah seni
Baik dan buruk
Sedih dan senang
Datang berdampingan
Bagiku, baik tidak selalu baik dan buruk tidak selalu buruk
Bagiku, setiap kejadian dapat menjadi sarana bagi Tuhan untuk menyampaikan pesan

Tapi pada akhirnya aku tetaplah manusia biasa
Yang terkadang tidak mampu melawan emosi
Mengikuti arah amarah

Maka mengertilah,
Mungkin saat ini aku hanya sedang butuh jeda

Tuesday, October 30, 2018

Mimpi Buruk

Aku ingin tertidur lelap seperti malam-malam yang biasa aku lalui
Tanpa menebak nebak perihal kamu sedang apa 

Namun aku bermimpi buruk
Tentang kehilangan

Di mimpi itu, kamu adalah orang lain
Bukan pria baik yang selama ini aku kenal

Di mimpi itu, kamu tidak pernah menatap mataku
Wajahmu berpaling ke arah depan

Di mimpi itu, hatimu sudah hilang
Entah pergi kemana

Setiap malam aku terjaga
Seperti tak ingin mimpi buruk datang lagi

Tapi setiap pagi aku tersadar
Ini bukan mimpi buruk, tapi kenyataan

Tuesday, July 31, 2018

Aku Sedang Ingin Berterima Kasih

Detik ini, aku sedang tidak mau berfikir
Tentang masa lalu
Masa sekarang, atau
Masa depan
Kehidupan itu selalu rumit
Di sisi lain, penuh kejutan

Seringkali batas senang dan sedih begitu tipis
Hingga perasaan menjadi sulit didefinisikan
Pernah kulihat kota seperti mati
Jiwa begitu kering, hanya basah oleh air mata

Pernah juga kurasakan angin begitu damai
Bahagia seakan tidak mau pergi

Maka aku bisa mengambil kesimpulan
Bahwa hidup bukan sebuah permainan tebak-tebakan
Tidak pernah ada yang kekal
Yang abadi hanya perubahan

Dan, Tuhan..detik ini aku sedang tidak mau berfikir
Termasuk tentang perasaan macam apa ini
Aku hanya sedang ingin berterima kasih

Sunday, March 4, 2018

Mengapa bisa berubah

Jakarta, 4 Maret 2018

Kira - kira satu tahun yang lalu
Saat banyak hal adalah hal baru
Termasuk beberapa pertemuan

Kira - kira satu tahun yang lalu
Aku sedang menelepon sembari tertawa kecil
Hari itu langit berwarna gelap
Tapi hatiku tidak

Kira - kira satu tahun yang lalu
Ada yang bertanya
Kamu pulang jam berapa?
Ku jawab jam tiga pagi

Kira - kira beberapa bulan yang lalu
Ada yang bertanya
Kamu sehat?
Ku jawab iya

Kira - kira beberapa minggu yang lalu
Percakapan - percakapan itu tak pernah lagi memiliki nyawa
Jarak kini tidak memiliki arti
Dekat tapi sebenarnya jauh
Banyak hal berubah, tapi aku tidak tau mengapa


Tuesday, December 26, 2017

Menjadi Orang Lain

Can you remember who you are, before the world told you who you should be? k.w

Awalnya, aku tidak pernah berfikir tentang menjadi orang lain.
Namun, kurasa semua orang pasti pernah mengalami. Terutama di fase-fase kehidupan yang berat.
Terkadang, kita sebagai manusia melihat kekurangan dalam diri adalah hal yang buruk.
Mulai pesimis, tidak bersemangat, menyalahkan diri sendiri.
Melihat orang lain selalu lebih baik dan ingin menjadi seperti mereka.
Kita terlarut dalam pikiran yang kacau. Dan berusaha mengubah diri sendiri.

Mungkin terdapat batas yang samar antara menjadikan seseorang sebagai role model atau ingin benar-benar mengikuti sifat orang lain.
Sebagai contoh, sebagai seorang yang pendiam, aku terkadang ingin seperti orang lain yang banyak bicara. Aku ingin menjadi orang yang tidak membosankan.
Namun, menjadi seseorang seperti itu seperti melawan kepribadianku yang asli. Jatuhnya, menjadi aneh.
Hingga aku selalu me-remind diri sendiri bahwa it's okay menjadi seorang yang pendiam. Toh, jika aku berada dekat orang yang sudah kurasa nyaman, aku bisa bicara banyak hal.
Tidak ada masalah dengan kepribadian yang berbeda dan jangan pernah menyalahkan diri sendiri. Mengapa terlalu peduli dengan opini orang lain.
Hiduplah dengan bahagia, hiduplah dengan cara kita masing-masing.

Jika melihat ke belakang, memang ada banyak hal yang berubah dari kepribadian kita. Namun, semoga menjadi lebih baik bukan mengubah diri menjadi orang lain.
Hanya memikirkan dan membandingkan diri dengan orang lain tidak akan membuat hidup lebih indah. Belajar menerima diri sendiri termasuk kekurangannya adalah penting.

Sekian! :)

Thursday, November 16, 2017

untitled


Surabaya, 16 November 2017.
Malam ini, aku sedang duduk di sebuah kursi nyaman yang berada di pojok kamar sebuah hotel di Surabaya.
Menikmati hidup yang mungkin sebentar lagi akan kembali tidak seimbang..kerja..kerja..kerja

Aku ingin bercerita banyak hal, soal kopi favorit misalnya
Atau bagaimana pengalaman selama merantau di Ibukota
Walau mungkin tidak akan menarik
Aku hanya ingin menulis

Atau kembali seperti dulu, dengan diri yang baru
Aku ingin memiliki hobi baru
Berkebun misalnya
Mencoba sesuatu yang baru terlihat menyenangkan

Pernahkah berfikir, bahwa saat ini, banyak hal membosankan
Memposting momen di sosial media hanya untuk "like, love dan comment"
Berlomba - lomba memamerkan kehidupan yang terlihat bahagia
Sehingga orang-orang menjauh dari diri sendiri dan ingin menjadi orang lain

Ah, kenapa malam ini random sekali

Friday, July 28, 2017

Senyum Bapak Penjual Tissue

Pagi itu, 26 Juli 2017.

Aku merasa bersemangat.
Langkahku lebih cepat daripada biasanya
Aku menuruni jembatan bus penyeberangan dengan senyum mengembang di bibirku
Ada satu orang yang ingin kutemui,
Ia orang di balik senyumku kala itu
Bapak penjual tissue di trotoar.

Pagi itu, aku baru mendapatkan gaji
Sejak lama aku ingin membeli barang dagangan Bapak penjual tissue
Namun, akhir-akhir ini aku sedang sangat berhemat
Sehingga aku menunggu saat gaji tiba

Bapak itu paruh baya
Aku tidak tau mengapa, tetapi ia selalu menggunakan topi rajut berwarna abu-abu
Kulitya legam dipapar matahari
Setiap pagi ketika aku berangkat kerja,
Aku melihatnya duduk, sambil menjajakan tissue
Walau terkadang, ia digantikan oleh seorang pria yang masih muda, mungkin anaknya

Ku hampiri Bapak itu,
Ternyata tissuenya sangat murah
Lima ribu, dapat dua
Aku merasa sedikit menyesal, kenapa tidak kubeli dari dulu

Saat ku ajak mengobrol, bapak itu sering tertawa
Mungkin karena ia sudah tidak fasih lagi berbicara, sehingga terkadang aku tidak paham artinya
Lalu, kami sama-sama tertawa

Pagi itu,
Aku bahagia
Pernahkah kalian merasa bahagia hingga rasanya ingin menangis? iya, pagi itu aku merasa seperti itu.


*Bapak penjual tissue yang tidak aku ketahui namanya itu berjualan di depan Ratu Plaza, di dekat jembatan halte busway. Jika kalian bertemu, mungkin bisa membeli dagangannya yang murah

Thursday, July 20, 2017

Kelak

Kelak, aku ingin menyambut pagi dengan duduk di teras, di atas kursi rotan yang mungkin sedikit usang.
Membaca majalah favoritku, menyeruput teh yang masih hangat, mendengarkan riuh anak SD di gang-gang kecil yang dulu sering kulewati. 

Kelak, sore pun ingin ku nikmati. Aku ingin menyiram halaman, hingga bau tanah seperti sehabis hujan. Aku ingin menanam bunga dan pepohonan. Memotong rumput hingga rapi. 

Kelak, aku ingin melakukan apa yang kusukai, aku ingin menari, aku ingin pergi ke tempat, yang dijumpai musim gugur atau berjalan-jalan naik kereta. 

Aku jatuh cinta pada hal-hal sederhana. Kelak, aku tidak menginginkan apapun, hanya bahagia.

Monday, May 8, 2017

Mengenang Pertemuan

Seandainya 9 tahun lalu, aku tidak pernah mengenalmu
Atau yang lebih sederhana, kau tidak muncul di depanku

Seandainya 9 tahun lalu, kau tidak mengagetkanku saat aku sibuk menulis
Lalu memandang  matamu yang coklat kira-kira lima detik

Aku benci mengingat yang berlalu
Tapi kenangan itu telah menemukan rumah
Pada tempat yang paling rahasia
Bersembunyi selama bertahun-tahun
Atau mungkin akan selamanya

Aku ingin sepertimu
Membiarkan waktu membawamu
Pada tawa di tepi pantai, senja kemarin
Menikmati suara ombak, 
Dengan orang yang kau cintai

Sesekali aku berdoa
Kepada Pemilik pertemuan
Aku ingin melihatmu
Walau hanya sekali




Sunday, February 5, 2017

Gadis yang Kau Coba Hapus dari Ingatan


 

Malam pernah menjadi sangat jahat
Ketika dia melihat seorang wanita dan pria mabuk dari teras rumahnya
Mereka tertawa dan tak pernah tau bahwa hati seseorang terluka
Bertahun tahun tak pernah sembuh
Pagi pun pernah menjadi sangat jahat
Ketika dia melihat seorang pria mengacungkan bogem
Di depan teras rumahnya
Kepada seseorang yang kau tak perlu tau itu siapa
 
Dia hanya seorang gadis kecil
Yang memendam rahasianya begitu dalam
Yang berjalan dengan kaki sendiri meski tertatih
 
 
Dia lah gadis yang ku coba hapus dari ingatan.
 

Friday, October 14, 2016

Untuk Langit, tentang Rinduku kepada Rumah


Aku tidak ingat saat itu semester berapa, yang kuingat adalah siang, ketika aku baru saja menginjakkan kaki di Bali, di lorong bandara, aku melihat sosok laki-laki. Seorang yang sangat aku cintai, yang kupanggil Bapak. Dari jauh, Bapak juga melihatku, dengan setengah berlari, aku pun menghampirinya.

Aku bahagia karena akhirnya bisa pulang. Namun, ada rasa yang lebih besar muncul daripada rasa bahagia itu. Aku merasa bersalah. Melihat banyak helaian rambut putih di kepala Bapak, juga kulit yang legam terpapar matahari dan keriput di wajahnya. Aku menjadi sadar, betapa lama waktu yang aku lewatkan tanpa menemaninya bertambah tua. Betapa banyak hari yang Bapak dan Ibu hadapi tanpa ada aku di samping mereka. Senyumku memudar mengingat hal itu. Sepanjang perjalanan aku merenung, sesekali mengajak Bapak ngobrol.

Langit, hari ini aku kembali mengulang memori itu.

Sudah 4 tahun lebih merantau di tanah orang, membuatku tidak serapuh dulu. Merindukan rumah tidak sesering dulu saat awal menempuh kuliah di Yogyakarta. Namun, seberapa lama berpisah dan jauh dari rumah, aku tetap ingin tinggal di rumah saja, jika bisa. Walaupun sederhana, sekamar berdua dengan adikku tetapi rumah tetaplah rumah, dimana ada orang-orang yang mencintai kita dengan tulus.

Aku memang orang yang ambisius. Mimpiku tidak main-main. Namun, di balik semua ambisi, mimpi, dan harapan, di tempat dengan ruang paling besar di otak dan hatiku, tetaplah keluarga.

Jaga mereka dari atas ya, langit.

Disini aku, pelan-pelan berjuang merealisasikan mimpi, untuk mereka. Semoga Tuhan selalu memberkati.

Friday, June 17, 2016

Tanya


Kau bilang kelabu tak akan nampak saat gelap

Kau bilang bintang menghapus luka langit malam

Kau bilang sepi itu menyenangkan

Aku ingin bertanya

Mengapa daun daun rela menjatuhkan diri

Melepaskan cintanya pada cabang pohon

Lalu rebah ke tanah yang kotor

Diinjak, diterbangkan angin dan terlupakan

Mengapa kehidupan mempertemukan

Kemudian, memisahkan.