Kau bilang kelabu tak akan nampak saat gelap
Kau bilang bintang menghapus luka langit malam
Kau bilang sepi itu menyenangkan
Aku ingin bertanya
Mengapa daun daun rela menjatuhkan diri
Melepaskan cintanya pada cabang pohon
Lalu rebah ke tanah yang kotor
Diinjak, diterbangkan angin dan terlupakan
Mengapa kehidupan mempertemukan
Kemudian, memisahkan.
Friday, June 17, 2016
Tanya
Saturday, May 14, 2016
Bab Akhir Masa Kuliah
Hampir empat tahun. Menetap di
sebuah kota yang tidak pernah kubayangkan sebelumnya, Yogyakarta. Melanjutkan
pendidikan di universitas berlabel kerakyatan yang merupakan salah satu
universitas terbaik di negeri ini. Kehidupan transisi dari masa remaja ke
dewasa memang menantang sekaligus menyenangkan. Namun, masa transisi tersebut
kini telah memasuki bab akhir.
Perjalanan ini dimulai dengan
awal yang tidak mulus. Saat ospek fakultas, aku dijatuhi hukuman sangat berat
karena akumulasi dari hukuman-hukuman sepanjang beberapa hari ospek. Aku harus
menulis essay sepanjang 2000 kata. Awal memasuki kuliah, aku memang naïf.
Manajemen waktu yang buruk membuatku tidak sempat mengerjakan tugas-tugas
individu ospek fakultas. Waktuku kuhabiskan untuk mengerjakan tugas kelompok. Tugas
kelompok dikerjakan oleh beberapa orang saja sehingga aku keteteran. Namun, hal tersebut tidak membuatku bermurung diri.
Kuambil sebagai sebuah pelajaran.
Kehidupan sebagai mahasiswa pun
dimulai. Semester-semester awal adalah momen beradaptasi. Menjumpai teman baru
yang berasal dari berbagai daerah, mulai menargetkan organisasi-organisasi
kampus untuk mengembangkan soft skill,
dan rajin masuk kelas karena belum ada kegiatan. Sebagai seseorang yang
memiliki relasi sangat sedikit di kampus, semester awal menjadi sedikit berat.
Menapaki pertengahan semester,
kehidupan mahasiswa sesungguhnya mulai terasa. Menyeimbangkan antara urusan akademis,
organisasi, dan kegiatan di luar kampus bukanlah sesuatu yang mudah, apalagi
jika belum terbiasa. Namun, aku selalu ingat kata senior yang pernah mengajukan
pertanyaan suatu ketika saat aku wawancara.
“Jika kamu mengikuti beberapa oganisasi, kemudian pada satu waktu
kegiatan organisasi-organisasi dan kuliah terbentur, apa yang akan kamu
lakukan?”
Aku menjawab dengan jawaban agak
klise. Ternyata jawaban yang benar adalah sederhana: Skala prioritas. Aku pun
menggunakan skala prioritas ini dalam membagi waktu selama aku kuliah. Kusematkan
skala prioritas dalam otakku, hingga kini.
Seiring berjalan waktu, perkuliahan menjadi semakin
kompleks. Setiap semester aku usahakan mengambil sks penuh dengan tetap
berkontribusi pada organisasi. Lingkaran pertemanan mulai menyempit, tetapi
relasi semakin luas.
Mungkin hampir semua mahasiswa berjibaku membagi waktu 24
jam dalam sehari untuk aktivitas mereka. Kadang, saat perkuliahan, setengah
kelas terlihat mengantuk. Entah itu kuliah pagi, siang, maupun sore. Sering
juga terjadi hari yang sangat tidak dinantikan yaitu ketika kuliah pagi hingga
sore (9 sks), semua mata kuliah berat dan semuanya kuis. Namun, inilah seni
dalam hidup. Ketika kehidupan berjalan lancar, maka saat itulah kamu perlu
mempertanyakan diri sendiri. Saat kehidupan terasa menantang, bersyukurlah
karena kamu sedang dibangun menjadi seseorang yang lebih baik.
Namun, masa-masa tersebut akan segera terganti. Pelajaran
yang kita dapat saat kuliah menjadi bekal untuk masa selanjutnya. Rasanya rindu
sekali bercanda di kelas, mengerjakan tugas hingga larut, kuliah dari pagi
sampai malam, membaca majalah di perpustakaan, dan kenangan lainnya saat
kuliah. Mungkin nanti saat di dunia kerja, kita masih mengalami ini tapi tetap
saja akan berbeda.
Kawan, kita akan jarang berjalan kaki ke supermarket dan
tempat makan lagi, main ke mall sama-sama
saat tugas numpuk demi refreshing,
naik bus ke malioboro, menginap dan bercerita hingga malam. Dulu setiap aku
pulang dari kampus dan kos berantakan, aku memilih tidur di kos teman. Kini,
aku harus memulai dari awal lagi, dan saat aku memulai dari awal, aku juga
harus melepaskan akhir.
Terima kasih kehidupan.
Tuesday, December 1, 2015
Memori Tentang Pulosari
Kami
sama-sama melihat rona merah langit Tumbu, pagi itu
Indah
Walau
dilihat dari tempat yang berbeda dan raga yang terpisah
Kami
tahu bahwa hati ini telah berlabuh
Pada
senyum ramah masyarakat Tumbu
Pada
sayup-sayup angin malam yang dinginnya menusuk tulang
Pada
jalan bebatuan yang kami lewati setiap hari
Pada
sapa serta tawa hangat anak-anak
Hari
demi hari terlewati
Tumbu
belum pernah menyisakan sendu
Kecuali,
rasa rindu kepada rumah tentunya…
Namun
Tumbu selalu menawarkan rumah kedua
Bagi
kami yang ikhlas mengabdi
Pulosari, 21 juli 2015
Aku
ingat betul. Saat pertama kali mengenal Desa Pulosari sebagai salah satu lokasi
Kuliah Kerja Nyata (KKN). Malam itu, aku menginap di rumah seorang teman kuliah
yang kukenal sejak lama. Kami bercerita sepanjang malam tentang KKN. Ia
menunjukkan sebuah proposal KKN tahun sebelumnya di Desa Pulosari. Aku melihat
sekilas dan bergumam, “ah, ada kebun teh. Sepertinya menarik”. Ya, aku sangat ingin ke kebun teh.
Waktu
terus berjalan hingga takdir membawaku untuk tinggal di Desa Pulosari selama
dua bulan untuk mengabdi. Pagi tanggal 2 Juli 2014, setelah menempuh perjalanan
panjang, rombongan KKN kami tiba di depan kantor kecamatan Desa Pulosari. Udara
pagi itu yang sangat dingin. Saking dinginnya gigiku menggertak dan tubuhku
menggigil tetapi aku tidak peduli. Rasanya sangat bersemangat untuk memulai
cerita di sebuah desa yang aku kunjungi untuk pertama kalinya.
Aku
dan tujuh teman yang lain, Desi, Diah Astuti, Indri, Pandji, Risang, Mbak
Alfonsa dan Farkhan bertugas di Dusun Tumbu. Dusun tersebut terletak tepat di
kaki Gunung Slamet. Kami tinggal di sebuah rumah yang cukup besar di RT 39,
rumah tersebut ditempati oleh sebuah keluarga yang ramah. Bapak Muin, Ibu Fareha,
Burhan dan Aji, mereka lah keluarga kami selama disana.
Tinggal
di Dusun Tumbu, kami merasa beruntung. Saat pagi, Gunung Slamet tergambar
sangat jelas seperti lukisan. Di sepanjang jalan, akan ada banyak warga yang bersliweran. Mereka membawa tongkat
besar yang di kedua ujungnya diikatkan jerigen. Dari pagi, hingga sore warga
tidak absen untuk mengambil air dari atas. Ada pula ibu-ibu yang bergerombol di
bak penampungan air hasil program pemerintah. Bak penampungan tersebut tersebar
di beberapa titik lokasi. Salah satunya berada di depan pondokan yang kami
tempati. Biasanya, bak tersebut adalah yang paling ramai. Pemandangan yang
sudah biasa bagi kami melihat ibu-ibu mengantri air sambil bercengkrama.
Monday, November 30, 2015
Menengok Ibukota
Jakarta, sudah lama tidak bersua. Kali kedua aku mengunjungimu, tidak banyak yang berubah
Aku paham mengapa banyak orang membenci Jakarta. Macet, banjir, dan copet mungkin beberapa dari sekian alasan yang ada di pikiranku. Anehnya, aku menyukai Jakarta yang punya beragam problematika. Jakarta adalah impianku sejak dulu. Walau aku sadar bahwa rasanya terlalu naif jika aku ingin bekerja di Jakarta. Seperti kebanyakan pendatang lainnya, aku merasa Jakarta membawa banyak kesempatan untuk meraih mimpi-mimpi besarku.
Minggu pagi tanggal 22 November, aku dan beberapa teman berkesempatan pergi ke Jakarta. Kami berangkat dalam rangka lomba. Ini kedua kalinya aku ke Jakarta, dan dua-duanya dalam rangka lomba, bahkan di tempat yang sama.
Entahlah. Aku pesimis. Lomba yang aku akan ikuti kulakoni tanpa persiapan. Aku hanya bergantung pada materi tutor akuntansi keuangan menengah yang aku berikan ke beberapa kelas. Aku menuju ke Jakarta dengan kereta. Ini juga pertama kalinya aku naik kereta. Sayangnya, aku tidak bisa menikmati pengalaman pertama kali tersebut. Hampir sepanjang perjalanan, aku membaca buku untuk persiapan lomba dan lebih banyak tidur karena kelelahan beberapa minggu terakhir.
Seusai perjalanan, aku malah mengalami flu. Namun, aku tidak ingin menyerah karena flu. Beberapa hari sebelum lomba berlangsung, aku ingin mematangkan persiapan walau ujung-ujungnya tetap tidak maksimal karena serangan flu dan kelelahan.
***
Lomba berlangsung selama dua hari dan aku hanya sampai pada babak final. Aku puas. Tuhan sangat baik kepadaku. Hasil tersebut melebihi ekspektasi. Lomba audit yang aku ikuti kali ini memang cukup berbeda, lebih ke praktek audit. Sedangkan, kampusku tidak memiliki mata kuliah praktik audit. Kami benar-benar kalah dari para pesaing. Mereka hebat.
Kekalahan lomba tidak membuat aku murung. Sebaliknya, aku sangat bersemangat untuk menikmati Jakarta. Rabu pagi, kami pergi ke stasiun untuk kembali ke Yogyakarta. Nekat sekali karena belum beli tiket. Setelah "terlempar" dari satu stasiun ke stasiun lainnya, kami mendapatkan kereta jam 10 malam. Alhasil kami harus menunggu kereta berjam-jam. Saat inilah, aku dan teman-teman memutuskan untuk bermain di dekat stasiun, saat itu kami berada di stasiun pasar senen. Syukurnya, salah satu teman bernama Chris pernah bersekolah dekat sana.
Tidak semua hal berjalan lancar pada hari kepulangan kami. Ya, salah satunya adalah tidak mendapatkan tiket kereta yang sesuai keinginan kami. Lebih dari itu, kami terutama aku membutuhkan perjuangan yang cukup besar. Aku sendiri membawa tas yang sangat berat ditambah ransel yang juga berat dan tambahan beberapa goodybag. Aku membawanya dari stasiun UI-Manggarai-Jatinegara-Pasar Senen. Saat di Pasar Senen, aku bahkan ingin menangis di tengah jalan. Kenapa tasku bisa seberat ini. Orang-orang yang turun dari kereta di Pasar Senen berdesak-desakan dan di belakangku bahkan ada yang bertengkar.
Pada saat menunggu kereta, aku, Meri dan Chris pun memutuskan untuk menitipkan bawaan kami yang berat tersebut di mantan sekolah Chris dulu. Walau dari stasiun hingga ke sekolah Chris kami juga butuh berjalan kaki tapi akhirnya semua beres. Akhirnya...
Untuk menikmati waktu, kami pergi ke Plaza Atrium. Makan ramen, melihat buku, melihat baju, makan donat. Rasanya kelelahan yang tadi terbayar sudah.Setelah waktu menunjukkan pukul 21.00, kami bergegas ke stasiun. Dari Plaza Atrium, kami melalui jembatan penyebrangan terlebih dahulu kemudian menumpangi Bajaj. Hari itu juga pertama kali aku naik Bajaj dan ternyata seru. Dari berbagai macam angkutan umum, Bajaj kini menjadi favoritku. Sesampainya di stasiun, kereta yang kami tumpangi ternyata cukup tepat waktu. Kami pun melanjutkan perjalanan pulang.
Subscribe to:
Posts (Atom)