Monday, May 8, 2017

Mengenang Pertemuan

Seandainya 9 tahun lalu, aku tidak pernah mengenalmu
Atau yang lebih sederhana, kau tidak muncul di depanku

Seandainya 9 tahun lalu, kau tidak mengagetkanku saat aku sibuk menulis
Lalu memandang  matamu yang coklat kira-kira lima detik

Aku benci mengingat yang berlalu
Tapi kenangan itu telah menemukan rumah
Pada tempat yang paling rahasia
Bersembunyi selama bertahun-tahun
Atau mungkin akan selamanya

Aku ingin sepertimu
Membiarkan waktu membawamu
Pada tawa di tepi pantai, senja kemarin
Menikmati suara ombak, 
Dengan orang yang kau cintai

Sesekali aku berdoa
Kepada Pemilik pertemuan
Aku ingin melihatmu
Walau hanya sekali




Sunday, February 5, 2017

Gadis yang Kau Coba Hapus dari Ingatan


 

Malam pernah menjadi sangat jahat
Ketika dia melihat seorang wanita dan pria mabuk dari teras rumahnya
Mereka tertawa dan tak pernah tau bahwa hati seseorang terluka
Bertahun tahun tak pernah sembuh
Pagi pun pernah menjadi sangat jahat
Ketika dia melihat seorang pria mengacungkan bogem
Di depan teras rumahnya
Kepada seseorang yang kau tak perlu tau itu siapa
 
Dia hanya seorang gadis kecil
Yang memendam rahasianya begitu dalam
Yang berjalan dengan kaki sendiri meski tertatih
 
 
Dia lah gadis yang ku coba hapus dari ingatan.
 

Friday, October 14, 2016

Untuk Langit, tentang Rinduku kepada Rumah


Aku tidak ingat saat itu semester berapa, yang kuingat adalah siang, ketika aku baru saja menginjakkan kaki di Bali, di lorong bandara, aku melihat sosok laki-laki. Seorang yang sangat aku cintai, yang kupanggil Bapak. Dari jauh, Bapak juga melihatku, dengan setengah berlari, aku pun menghampirinya.

Aku bahagia karena akhirnya bisa pulang. Namun, ada rasa yang lebih besar muncul daripada rasa bahagia itu. Aku merasa bersalah. Melihat banyak helaian rambut putih di kepala Bapak, juga kulit yang legam terpapar matahari dan keriput di wajahnya. Aku menjadi sadar, betapa lama waktu yang aku lewatkan tanpa menemaninya bertambah tua. Betapa banyak hari yang Bapak dan Ibu hadapi tanpa ada aku di samping mereka. Senyumku memudar mengingat hal itu. Sepanjang perjalanan aku merenung, sesekali mengajak Bapak ngobrol.

Langit, hari ini aku kembali mengulang memori itu.

Sudah 4 tahun lebih merantau di tanah orang, membuatku tidak serapuh dulu. Merindukan rumah tidak sesering dulu saat awal menempuh kuliah di Yogyakarta. Namun, seberapa lama berpisah dan jauh dari rumah, aku tetap ingin tinggal di rumah saja, jika bisa. Walaupun sederhana, sekamar berdua dengan adikku tetapi rumah tetaplah rumah, dimana ada orang-orang yang mencintai kita dengan tulus.

Aku memang orang yang ambisius. Mimpiku tidak main-main. Namun, di balik semua ambisi, mimpi, dan harapan, di tempat dengan ruang paling besar di otak dan hatiku, tetaplah keluarga.

Jaga mereka dari atas ya, langit.

Disini aku, pelan-pelan berjuang merealisasikan mimpi, untuk mereka. Semoga Tuhan selalu memberkati.

Friday, June 17, 2016

Tanya


Kau bilang kelabu tak akan nampak saat gelap

Kau bilang bintang menghapus luka langit malam

Kau bilang sepi itu menyenangkan

Aku ingin bertanya

Mengapa daun daun rela menjatuhkan diri

Melepaskan cintanya pada cabang pohon

Lalu rebah ke tanah yang kotor

Diinjak, diterbangkan angin dan terlupakan

Mengapa kehidupan mempertemukan

Kemudian, memisahkan.